Ketika Sampah Menjadi Produk yang Bernilai



Ketika Sampah Menjadi Produk yang Bernilai
Blogger IWITA Bekasi [Foto : IWITA Bekasi]
Pada Jum'at 26 Oktober 2018 kemarin, alhamdulillah saya bersama dengan rekan IWITA Bekasi berkesempatan untuk hadir pada acara Advokasi Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Melalui Pelatihan Daur Ulang Sampah di Kota Bekasi yang berlokasi di Hotel Horison Bekasi tepatnya di Krakatau 3 Room yang diadakan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. 
Ketika Sampah Menjadi Produk yang Bernilai
[Foto : Laily Desy]
Seperti yang telah kita ketahui, bahwa sampah menjadi hal yang sulit untuk ditangani ketika jumlah penduduk semakin bertambah dari tahun ke tahunnya. Ditambah, kurangnya kesadaran masyarakat akan dampak besar dari sampah. Karena mindset awal merasa tidak memiliki yang sulit untuk dirubah yakni masyarakat inginnya rumah bersih namun tak peduli tempat lainnya seperti jalan atau sungai menjadi kotor. 

Padahal dampak dari melimpahnya sampah, bukan hanya banjir. Namun lebih berbahaya dari itu. Karena, sampah organik yang terurai saat adanya oksigen akan menghasilkan gas berbahaya yakni Metana atau dalam bahasa kimianya CH4. Gas metana sendiri adalah hidrokarbon paling sederhana yang berbentuk gas dengan rumus kimia CH4. Dan metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang sangat memberikan dampak buruk bagi kelangsungan hidup.

Atas dasar itu, melihat semakin padatnya penduduk Kota Bekasi yang mengakibatkan bertambah pulanya sampah. Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi menggiatkan kebersihan lingkungan sesuai dengan misi dan visi kota Bekasi yakni "Cerdas, Kreatif, Maju, Sejahtera, Ikhsan" dengan mengadakan Bank Sampah.

Bank sampah sendiri merupakan sebuah konsep pengumpulan sampah kering (Misal : Kertas, karton, kaleng, majalah, dan sampah plastik lainnya) yang berasal dari rumah untuk memaksimalkan partisipasi warga dan menambah nilai ekonomi dari sampah. Tujuannya Bank Sampah sebagai solusi reduksi sampah di tingkat masyarakat karena kemampuannya yang menjadi bagian dari sistem rantai pengumpulan sampah yang terintegrasi.
Adapun konsep dasar Bank Sampah dengan melakukan 5M. Yakni, Mengurangi sampah, memilah sampah, memanfaatkan sampah, mendaur ulang sampah, Menabung sampah.
Sedangkan untuk cara menabung Bank Sampah dapat dilakukan dengan 2 cara. Yakni, Secara individual (penambang datang ke Bank Sampah) dan secara komunal (Petugas Bank Sampah mendatangi TPS tiap RT).

Sedangkan cara mengolah menangani sampah dikenal dengan sebutan 5R :
  • Reduce yang berarti mengurangi pemakaian suatu barang atau pola perilaku manusia yang dapat mengurangi produksi sampah, serta tidak melakukan pola konsumsi yang berlebihan. Contohnya adalah mengurangi penggunaan barang-barang yang tidak bisa didaur ulang.
  • Reuse berarti kegiatan menggunakan kembali material atau bahan yang masih layak pakai untuk dapat dimanfaatkan kembali. Contohnya adalah menggunakan kaleng bekas untuk tempat pensil atau manfaat lainnya kembali botol bekas yang masih layak untuk menanam tanaman. 
  • Recycle berarti kegiatan mengolah kembali (mendaur ulang). Pada prinsipnya, kegiatan ini memanfaatkan barang bekas dengan cara mengolah materinya untuk dapat digunakan lebih lanjut dan bahkan bernilai ekonomi. Dengan contoh : memanfaatkan dan mengolah sampah organik untuk dijadikan pupuk kompos, memanfaatkan kantong kresek plastik bekas untuk membuat bunga ataupun tas.
  • Replace berarti mengganti pemakaian suatu barang atau memakai barang alternatif yang sifatnya lebih ramah lingkungan dan dapat digunakan kembali. Upaya ini dinilai dapat mengubah kebiasaan seseorang yang mempercepat produksi sampah.
  • Replant berarti kegiatan penanaman kembali, sering juga disebut reboisasi. Contohnya adalah melakukan kegiatan reboisasi hutan mangrove dan tanaman produktif untuk mengurangi global warming.
Kebetulan, pada acara Advokasi Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Melalui Pelatihan Daur Ulang Sampah di Kota Bekasi kemarin, diperlihatkan juga hasil dari pengolahan sampah yang menjadi produk bernilai tinggi dari para Ibu Bank Sampah yang sangat kreatif. Berikut contoh produknya :
Ketika Sampah Menjadi Produk yang Bernilai
[Foto : Laily Desy]

Ketika Sampah Menjadi Produk yang Bernilai
[Model : Laily Desy ; Foto : Dok.Pribadi]

Ketika Sampah Menjadi Produk yang Bernilai
[Difotoin sama Mba Nur Sobah]

Ketika Sampah Menjadi Produk yang Bernilai
[Foto : Dok. Pribadi]

Ketika Sampah Menjadi Produk yang Bernilai
[Foto : Dok. Pribadi]
Tentu sangat disayangkan apabila setiap produk tidak dibekali dengan strategi marketing yang jitu. Mengingat sangat uniknya produk hasil dari Bank Sampah ini, maka pada acara Advokasi Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Melalui Pelatihan Daur Ulang Sampah di Kota Bekasi juga menghadirkan Ibu Martha Simanjuntak selaku founder dari IWITA (Indonesia Women IT Awareness).

IWITA (Indonesia Women IT Awareness) merupakan organisasi perempuan Indonesia tanggap teknologi informasi guna mencerdaskan perempuan Indonesia melalui teknologi informasi. Dengan visi terwujudnya perempuan Indonesia tanggap Teknologi informasi melalui advancement, learning, implementation, dan sosialization, sehingga perempuan dapat berperan dan berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi Indonesia dan membentuk generasi bangsa yang berakhlak mulia dan berprestasi. Sedangkan misinya adalah menciptakan kesadaran perempuan indonesia akan manfaat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk pengembangan produktivitas pribadi di bidang TI dan peningkatan ekonomi keluarga. 

Dalam kesempatan ini, Ibu Martha Simanjuntak memberikan materi mengenai "Pentingnya Strategi Branding, Packaging, Teknik Foto Produk, dan Sosial Media Marketing dalam meningkatkan penjualan." Sangat sesuai dengan kebutuhan produk Bank Sampah.

Mengenai branding, tentunya setiap produk mesti memiliki branding yang kuat. Dengan entah itu logo, warna, atau slogan yang menggambarkan produk itu banget, sehingga bisa lekat dalam kesan masyarakat. Berikut merupakan 7 strategi branding yang dipaparkan oleh Ibu Martha Simanjuntak :
Ketika Sampah Menjadi Produk yang Bernilai
[Foto : Dok. Martha Simanjuntak]
Lalu mengenai Packaging, pentingnya memikirkan proses packaging produk sebagai salah satu sarana marketing dari kemasan. Begitu pentingnya proses packaging produk untuk menarik perhatian para konsumen berhubungan dengan berbagai kebutuhan dari suatu kreativitas dan inovasi dalam menjalankannya. 

Beberapa Proses packaging produk yang dapat menarik perhatian para konsumen, diantaranya :
  • Jenis warna dasar
  • Ciri khas
  • Informasi produk
  • Kesan yang lebih positif
  • Memiliki kekuatan 
Mengenai Product Photography, Ibu Martha Simanjuntak memaparkan bahwa yang harus diperhatikan dalam proses pemotretan adalah 2 hal. Yakni pencahayaan dan Angle (Sudut Pengambilan gambar). Pada sesi ini, semua tamu undangan dipersilahkan untuk mencoba memotret produk dari Bank Sampah. 
Ketika Sampah Menjadi Produk yang Bernilai
[Foto : Dok. Martha Simanjuntak]
Pada zaman dimana teknologi semakin melaju dengan cepatnya, tentu sangat bermanfaat untuk mengaplikasikan Sosial Media Marketing. Sosial media marketing sendiri adalah proses meraih kunjungan pengguna internet ke situs tertentu atau perhatian khalayak ramai melalui situs-situs sosial media.

Karena saat ini pengguna instagram semakin banyak peminatnya, maka dalam sesi ini juga menghadirkan Mba Ety Budiharjo yang merupakan seorang Blogger sebagai pembicara untuk menjelaskan mengenai caption (cerita). Menurut Mba Ety, caption yang baik adalah yang dapat mengunggah emosi pembacanya, jadi baiknya buatlah caption dengan cerita menarik serta melibatkan emosi serta perasaan agar dapat menarik empati dari pembaca. 
Ketika Sampah Menjadi Produk yang Bernilai
[Model : Mba Ety Budiharjo ; Foto : Dok.Pribadi]
Dari acara kali ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa sampah menjadi masalah ketika sampah tak diolah dengan baik, namun menjadi berkah ketika sampah diolah menjadi produk yang bernilai tinggi dengan memanfaatkan Teknologi Informasi terupdate.

Sekian, untuk artikel kali ini. Semoga bermanfaat dan selamat melanjutkan aktivitas :)


2 Responses to "Ketika Sampah Menjadi Produk yang Bernilai"

  1. Selagi bisa manfaatin pasti jadi manfaat ya, Teh.
    Tas seperti itu sama seprti yang biasa ibu saya bikin :)

    ReplyDelete
  2. Ternyata sampah dikategorikan menjadi 5 R yaitu : Reduxe, Reuse, Recycle, Replace dan Replant.
    Jadi kamu pilih R yang mana? Dari ke 5 R itu ?

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel