Hati dan Diri

Hati dan Diri

"Hay kamu. Apa kabarnya? Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu ya." Lamunku malam ini.

Perjalanan hidup berlaku untuk segalanya. Begitu pun dengan hati, perjalanannya menorehkan cerita yang mungkin akan selalu teringat. Namun, bukan untuk selalu menyelinap di dalamnya. 

Hati. Setiap perjalanannya menguatkan diri. Setiap ia tersakiti, akan menemukan cara menyembuhkannnya. Mungkin ia pernah di dera rasa lelah. Lelah akan keberadaannya, namun siapa sangka bahwa keberadaannya begitu penting bagi diri.

Wahai hati, engkau mungkin pernah merasa kecewa yang teramat dalam. Hingga sesak yang kamu rasakan tak ada yang mampu memahaminya kecuali Tuhan. Mungkin engkau pernah merasakan sakitnya dikhianati hingga kamu lupa bagaimana caranya untuk membentuk kepercayaan. 

Hati, mungkin engkau pernah merasa bahagia yang teramat hingga lupa caranya menangis. Mungkin engkau pernah merasakan cinta yang berlebih, hingga lupa bahwa hanya Tuhan yang patut mendapatkan cinta yang utuh.

Hati, mungkin engkau pernah merasa memiliki seerat nadi, hingga lupa bahwa diri ini pun bukan sungguhan milikmu. Mungkin engkau sempat merasa kehilangan, hingga lupa bahwa akan selalu ada Tuhan di dalam hati.

Hati, berdamailah mulai saat ini. Ikhlaskan semua yang terjadi, kamu berhak untuk hidup kembali.

Seberapa berat perjalanan yang kau lewati kemarin, mari buka kitab suci kembali. 

Seberapa sadisnya mereka di pikiranmu, tak seberapa dibandingkan dengan diri yang lalai akan Penciptanya. Kamu terlalu berlebih dalam percaya kepada makhlukNya, hingga lupa, bahwa yang patut dipercaya seutuhnya hanyalah Sang Pencipta.

Hidup ini memang merupakan kefanaan dari perjalanan. Segalanya kelak akan diperhitungkan. Bukan hanya soal uang, namun juga soal 'Untuk apa kita manfaatkan nafas'. Setiap pekerjaan mempunyai tanggung jawabnya, seperti itu juga nafas yang diberikan oleh Tuhan yang mesti kita pertanggungjawabkan kelak.

Ada yang bilang, kita kerja untuk bertahan hidup. Namun hakikatnya, kita hidup untuk bekerja. 

Jika hidup untuk bekerja, istirahat yang sesungguhnya adalah meninggal.

Pikiran ini tak mampu membayangkan akan akhirat. Namun jelas, surga dan neraka adalah benar adanya.
Wahai Hati, tetaplah dengan ketenanganmu, jangan kau kotori lagi dengan nafsu keburukan.
Lamunanku malam ini terhenti. Hingga aku tersadar bahwa lamunanku di awal adalah keresahan akan kesempatan yang telah Tuhan berikan untukku menjalani hidup. Bahwa bukan seberapa bahagia hidup yang kita jalani, tapi adalah mengenai rasa bersyukur dan terus memperbaiki diri dengan menyertakan ikhlas di dalamnya.

Mengenai rasa yang hadir, entah itu rasa percaya, cinta, hingga kecewa. Semuanya tidaklah selamanya terpatri. Akan ada masanya sebagian rasa memudar. Karena yang kekal hanyalah Tuhan sang Pemilik hati.


9 Responses to "Hati dan Diri"

  1. Puitis juga ternyata, bolehlah tulisannya^_^

    ReplyDelete
  2. romantis dong....dyah gitu loh.
    btw, pertanyaannya. hati apa "hati?".
    kalau hati itu tempat di produksinya darah di dalam tubuh.
    kalau "hati" artinya nurani, bisa juga jiwa. karena itu kata kerja abstrak.
    tapi tidak semua rasanya abstrak dan fana. karena beberapa orang ada yang memeliharanya seumur hidup, dendam.
    dendam pun ada yang manis. disebutnya rindu.

    ReplyDelete
  3. Nyentuh kak, tertabok aku🙈
    Sukaaaa😍💕

    ReplyDelete
  4. Wah kata-kata nya bagus juga

    ReplyDelete
  5. Memang hanya Tuhan kak yang tahu apa yang kita rasakan

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel