Mafiz yang Tak Berujung 02 #Cerbung

` Kalau belum baca Part I nya, bisa dibaca dulu di https://www.marudiyafu.com/2019/03/mafiz-yang-tak-berujung-cerbung.html 

Cerbung, cerita sambung, cerpen, cerbung remaja

Saat jantung itu tak biasanya berdegup dengan amat kencang, Mawar dihadapkan dengan posisi bingung yang kian tak menentu. Matanya lirih menatap pesan yang ada di layar ponselnya. Pikirannya berbalik ke beberapa jam yang lalu saat dirinya bertemu dengan Bang Hafiz.  Malam itu rasanya seperti membawa pesan untuk Mawar yang kian menanti balasan.

Memang, Bang Hafiz merupakan sosok yang sesuai dengan kriterianya dari segi fisik. Sedari kecil Mawar sudah mendambakan sosok lelaki dengan kulit putih, hidung bangir, alis tebal, dan bertubuh lebih tinggi beberapa centi dari dirinya. Ditambah ia pernah mendengar cerita dari Lyla bahwa abangnya itu merupakan lelaki yang bisa dibilang sholeh. Tidak pernah pacaran, sholat tepat waktu, mengaji pun tak pernah ketinggalan. Ditambah perihal akademis yang amat mempesona kepintarannya. Menjadi lulusan terbaik adalah julukan Bang Hafiz pada angkatannya.

Aaaaaah sungguh Bang Hafiz merupakan sosok lelaki idaman di mata perempuan seperti Mawar. Lagi-lagi dirinya seolah mendengar suara Bang Hafiz yang tegas namun lembut. Suara itu tak luput dari ingatannya. Suara dengan kata-kata yang amat sopan dan menyentuh hati Mawar. 

"Mawaaaaaar.. makan dulu sini.. sudah mama buatkan makanan kesukaanmu nih.." Suara ibu Mawar terdengar dari balik pintu kamar. Membuyarkan semua lamunan yang sejak beberapa menit menghantui imajinasinya.  

"Iyaaa maaa.." Jawab Mawar sambil membuka pintu kamarnya. 

Sepiring nasi berlaukkan ikan sarden yang menjadi favorit disantap Mawar dengan lahap. Sesekali Mawar menyunggingkan senyum sumringahnya kepada Ibunya yang juga menemaninya makan.

"Kamu kenapa Mawar? Gak biasanya senyum-senyum terus.. Anak mama gak sedang jatuh cinta kan?" Ucap Ibu Mawar seperti sadar bahwa sesuatu telah menghinggapi hati Mawar.

"Engga tau nih maaa.. Aku lagi senang banget.. Mama kok bisa berkata bahwa aku sedang jatuh cinta?" Jawab Mawar tersungging.
"Yaiyalah.. kan mama yang tau kamu bangeeeeeet.. kamu itu anak satu-satunya mama.." Ibu Mawar kini menjawab sambil mencubit pipi Mawar yang chubby.

Seketika pipi Mawar berwarna merah muda dan bibir merahnya semakin menyunggingkan senyum termanisnya di hadapan Ibu.
"Iyaaaa maaa.. Mawar lagi suka sama cowo. Tapi, baru sebatas kagum maaa.. lagi juga baru pertama kali bertemu.." Jawab Mawar setelah mengunyah makanan di mulutnya.

"Ohhh begitu.. Kalau memang sudah dekat, ajak ke rumah yaa.. kenalkan ke mama.." Jawab Ibu Mawar dengan penuh selidik dibenaknya. "Ngomong-ngomong, siapa lelaki itu?"

"Dia abangnya Lyla, teman kerja Mawar yang pernah main ke rumah beberapa pekan lalu ma.. Itu lho maa.. Lyla yang berjilbab Syar'i." Mawar mencoba menjelaskan kepada ibunya.
"Oh yang itu.. Semoga saja abangnya juga sholehah.. eeeh maksud mama, semoga abangnya juga sholeh seperti Lyla.." Ibu Mawar menambahkan.

"Iyaaa ma.. Semoga saja ya maa.. Jadi kan kalau kita berjodoh, Bang Hafiz bisa nuntun Mawar ke jalan yang benar.." Kali ini Mawar berucap tanpa sadar sambil menikmati ikan sarden kesukaannya.

"Lhoooo.. Tunggu dulu.. Jadi namanya Bang Hafiz? Nah sepertinya kamu ada prospek buat menikah dengannya ya Mawar?" Ibu Mawar sudah bisa menebak yang dirasakan anaknya.

"Tadi aku bilang apa ya ma?" Mawar kaget dengan respon ibunya.

"Yaudah.. Kalau memang kamu sedang suka dengan sosok lelaki itu, doakan saja yang terbaik. Allah pasti mendengar doamu.." Perkataan Ibu Mawar kali ini sungguh meneduhkan hati Mawar yang sedang tak menentu.

"Iya maa.. Insya Allah Mawar akan berdoa soal itu.." Jawab Mawar sambil menghabiskan makannya. 

Malam itu perasaan Mawar kian tak menentu. Setelah selesai makan, Mawar beranjak ke kamarnya untuk meluruskan badannya yang terasa sangat pegal karena kerjaannya hari itu sungguh menguras tenaga akibat ada rekan kerjanya yang tidak masuk kerja.

Setelah 10 menit rebahan sambil membaca buku motivasi yang menjadi favorit Mawar, dirinya baru teringat akan pesan dari Bang Hafiz yang belum dibalasnya.

"Yaa Allah.. Mawar lupa balas pesan dari Bang Hafiz.. Tapi kalau balas, mesti balas apa yaaa.. Yaa sudahlah, tidak dibalas pun tidak apa-apa kali yaa.. Lagi juga Bang Hafiz tidak meminta untuk membalas pesannya.."

Setelah mata Mawar lelah membaca, ia pun tertidur pulas dengan buku di tangan kanannya.

Hingga alarm berbunyi tepat pukul 03:00 pagi sesuai dengan jadwal bangun tidur Mawar setiap pagi. Sontak Mawar kaget mendengar alarm yang berbunyi dan langsung terbangun dari mimpinya.

Alhamdulillah ternyata sudah pagi. Mawar bergegas untuk mematikan alarm yang ada di meja belajarnya. Lalu dilanjutkan dengan mengikat rambutnya dan setelah itu Mawar beranjak untuk memanaskan air untuk diminumnya.

Minum air hangat setelah bangun tidur menjadi rutinitas Mawar setiap hari. Setelah meminum air hangat, Mawar pun beranjak untuk segera mengambil wudhu ke kamar mandi. Namun, entah mengapa saat hendak mengambil wudhu, bayangan Bang Hafiz lagi-lagi muncul di pikirannya. Dan Mawar mencoba menepis bayangan itu.

Mawar tetap melanjutkan untuk berwudhu, perlahan ketenangan didapatnya. Seusai wudhu, Mawar melanjutkan dengan sholat tahajud serta membaca ayat suci hingga berlanjut sholat subuh untuk kebutuhan jiwanya. Mawar adalah sosok yang memerhatikan kepentingan rohaninya, karena menurut Mawar yang utama dari seorang manusia adalah hatinya.

Setelah memenuhi kebutuhan rohaninya, Mawar merasa sangat tenang. Dan Mawar melanjutkan diri untuk bergegas mempersiapkan diri berangkat kerja.

Bersambung~

1 Response to "Mafiz yang Tak Berujung 02 #Cerbung"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel