Inilah Cara Menghadapi Tantangan 4.0

industri 4.0, tantangan 4.0, era revolusi industri 4.0

Dulu waktu saya SMK sekitar tahun 2008 sampai 2011, ada istilahnya sms nyasar atau pun telpon salah sambung yang berujung pada saling berkenalan. Tapi kini, tanpa basa basi "salah nomor" atau pun "salah sambung", kita bisa langsung berkenalan dengan orang asing melalui media sosial.

industri 4.0, tantangan 4.0, era revolusi industri 4.0
Seperti itulah kiranya perkembangan teknologi, dari masa ke masa selalu berusaha memberikan keunggulannya masing-masing. Kini kita masuk dalam era revolusi industri 4.0 dimana perubahan ini terlihat begitu cepat. Industri 4.0 merupakan tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif.

Industri 4.0 menghasilkan "pabrik cerdas". Di dalam pabrik cerdas berstruktur moduler, sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Lewat internet untuk segala (IoT), sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja sama dengan satu sama lain dan manusia secara bersamaan. 
Yang menjadi garis besar dari artikel ini adalah, apakah kita siap beradaptasi dengan semua perkembangan dan kemajuan teknologi itu?
Sejalan dengan pernyataan di atas, maka taudariblogger.info mengadakan acara yang sangat menarik untuk kita simak materinya. Alhamdulillah saya bisa datang pada acara yang bertemakan "Menghadapi tantangan 4.0" dengan pemateri yang didatangkan langsung pakarnya, yakni Fatmasari yang merupakan Senior Consultant dari The Strategist.

industri 4.0, tantangan 4.0, era revolusi industri 4.0
Tentu, sebagai kaum millenial saya sangat tertarik untuk bisa hadir pada acara yang berlangsung pada Sabtu 4 Mei 2019 di Kantor TDB ini. Bagaimana tidak? Selama ini kegelisahan-kegelisahan saya mengenai perubahan-perubahan besar dari industri 4.0 berkecamuk di dalam pikiran. Mengingat saat ini saya bekerja di dunia digital, maka setiap harinya mesti memutar otak agar bisa jalan berdampingan dengan teknologi terkini.
Menurut  Fatmasari, Revolusi 4.0 mendorong kita untuk memilih kursi. Yess, pada masa kini, kita bebas menentukan ingin menjadi apa diri ini. Selama ini kan sebagian dari kita masih menganut pemikiran mengenai "rezeki" secara ilmiah bahwa rezeki datangnya dari gaji bulanan kantor. Padahal, sebaiknya kita berpikir secara rabbaniah, dimana rezeki itu datangnya dari Tuhan. Bahwa rezeki setiap makhluk sudah dijamin oleh Tuhan. Sehingga dengan berpikir secara rabbaniyah, kita tidak merasa ketar-ketir dalam urusan rezeki. Dan bisa lebih maksimal dalam mengembangkan kemampuan diri.
Setuju ga, bahwa rezeki datang saat suasana hati sedang bahagia? Kalau saya sih setuju. Lalu bahagia itu datangnya dari mana sih Mar? Bahagia datangnya dari diri sendiri! Diri inilah yang menentukan bahwa diri berhak untuk bahagia. Cara mendatangkan bahagia bagaimana? Pengukuran bahagia adalah keadaan hari ini dan besok. Dimana yang membuat kita bahagia adalah bertumbuh dari hari ke harinya. Bagaimana caranya? Mari lanjutkan membaca artikel ini, karena kamu akan menemukan jawabannya ketika usai membaca artikel ini. 
Era revolusi industri 4.0 ini merupakan upgrading dari revolusi sebelumnya. Dimana industri 4.0 ini menjadi resolusi (perubahan cepat). Seperti peran internet yang kini sudah masuk ke level kebutuhan tingkat tinggi, sehingga sangat gampang dalam menstimulasi kebaikan dan keburukan. 

Banyak sekali dari kita yang mencoba mengambil peran dalam hal ini. Entah itu sebagai pengkonsumsi informasi atau sebagai penyebar informasi di dunia digital khususnya dunia media sosial. 

Sebenarnya, antara dunia digital sangat erat kaitannya dengan entrepeneur. Selama ini kita mengenal bahwa jiwa entrepeneur adalah jiwa yang kuat. Tidak mudah menyerah, kokoh, tahan banting, berusaha selalu belajar, berkompetisi, berkolaborasi, dan berusaha untuk menarik ketertarikan dari konsumen adalah ciri-ciri dari jiwa entrepeneur. Dalam dunia digital pun demikian!

Winning Mindset, Spiritual Journey, Technology, with Patient

industri 4.0, tantangan 4.0, era revolusi industri 4.0

Mengenai Winning Mindset 


Pada Winning Mindset ini kita sadar bahwa customer perlu untuk mendapatkan kenyamanan perasaan agar bisa membeli produk kita (bagi pedagang), atau tetap menikmati konten kita (bagi penggiat dunia digital atau content creator).
Sebagai contoh, mari kita belajar dari pengalaman Ria Ricis yang kini sudah mempunyai jutaan subcribers pada channel youtubenya sehingga membuat rate card-nya kian hari kian naik. Apakah semua itu bisa didapatkan secara cuma-cuma? Tentu tidak! Awalnya ia sering membuat video-video lucu yang diunggah di akun instagramnya, hingga ia berusaha untuk mempertahankan keunikannya dengan terus memperbaiki kualitas dari konten yang telah dibuatnya. Berkat kesabarannya dalam mempelajari dunia digital, membuat konten, menarik perhatian penonton, hingga bertemu dengan berbagai kritikan, Ria Ricis perlahan mulai dikenal dan mempunyai bagian di hati banyak orang terutama generasi Z. 
Secara keseluruhan, kita bisa menyimpulkan bahwa digital marketing serta digital strategist mesti dimiliki oleh seorang yang menggeluti dunia digital.

Di titik 4.0 ini, Bagaimana produk kita bisa dibeli orang atau dikonsumsi orang? Adalah dengan cara memainkan emosional customer. Seperti Ria Ricis yang bisa mengambil empati penontonnya melalui konten video yang diunggahnya.

Mengenai Spiritual Journey


Sebagai makhluk ciptaanNya, tentu kita dianugerahi rohani dengan tingkat keimanan yang naik turun. Di sinilah spiritual journey berperan dalam prosesnya. Kita yakini diri bahwa Tuhan lah yang menggerakkan hati kita dalam setiap langkah di kehidupan ini. Sehingga, setiap kejadiannya pasti ada hikmah yang bisa kita petik untuk pembelajaran hidup. 

Sehingga etos berjuang di sini juga meliputi kuatnya kita dalam menerima kegagalan dan siapnya kita dalam menerima keberhasilan. 

Sebagai contoh, saat tahun pemilu ini banyak calon legislatif yang berjuang dalam hal offline dan online dalam mempromosikan dirinya agar terpilih di mata masyarakat untuk mengemban tanggung jawab sebagai anggota legislatif. Berbagai upaya dilakukannya, bahkan ada yang sampai menjual asset untuk modal berkampanye. Tentu, itu semua juga harus diiringi dengan spiritual journey, untuk menjaga diri agar jika gagal tidak sampai amat kecewa hingga lupa diri. 

Mengenai Technology


Revolusi industri 4.0 merupakan integrasi antara dunia internet atau online dengan dunia usaha atau produksi di sebuah industri. Artinya, semua proses produksi ditopang dengan internet. Sehingga pada dasarnya indsutri 4.0 ini adalah sebagai solusi dari kekurangan atas masa sebelumnya. Teknologi 4.0 sangatlah canggih. Namun jika kita tidak dapat beradaptasi dengannya, maka kita akan tergeser oleh yang terupdate.

Seperti kasus, kemunculan transportasi online yang secara cepat menggeser transportasi offline di Indonesia beberapa tahun ini. Atau mungkin seperti salah satu merk ponsel yang dulunya menjadi nomor satu di hati pelanggan, namun kini karena tidak mengikuti teknologi terkini merk ponsel itu sudah tenggelam tergantikan oleh berbagai smartphone yang lebih unggul dalam memberikan kemudahan berinteraksi atau pun beraktivitas setiap harinya.

Mungkin terkesan radikal ya teknologi 4.0, tapi memang begitulah adanya! Di mana teknologi ini sekaligus menjadi tools bagi para start up yang telah memulai membuat produknya.

Mengenai Patient


Dari ketiga hal utama di atas, baik winning mindset, spiritual journey, dan technology, tentunya juga perlu disertai dengan "Sabar"! Setiap usaha yang kita jalani kalau tidak menyertai sabar, maka akan terhenti di tengah jalan dan tidak menemukan titik kesuksesan.
Sebagai contoh, kalau saja kita tidak mempunyai sabar dalam setiap usaha yang kita jalani. Bisa jadi, ketika kita menerima kritik malah menjadikan diri berputus asa dan tidak lagi melanjutkan usaha tersebut. Namun, jika kita menyertakan sabar dalam setiap usaha yang dijalani, kerikil demi kerikil bahkan terjangan sekalipun akan kita hadapi dengan hati yang lapang. Menerima kritik adalah sebagai masukan untuk memperbaiki kualitas usaha.

Betapa sabar sangat dibutuhkan dalam beradaptasi dengan industri 4.0. Hingga setiap harinya merupakan hari yang tepat untuk terus belajar, berjuang, maupun berdagang. 

Industri 4.0 Menopang Usaha Kita Bersamaan Dengan Etos


Industri 4.0 ini sesungguhnya merupakan penemuan yang menjadi solusi dalam mempermudah aktivitas harian, namun juga mesti diiringi dengan etos belajar, berjuang, dan berdagang. 

Belajar dengan cara terus mengikuti perkembangan zaman serta menerima kritik dan saran. Lalu berjuang untuk terus tumbuh dari hari ke harinya. Dan juga berdagang dalam mencari peruntungan rezeki yang telah disiapkan Tuhan untuk kita. 

Ayam Geprek Mak Bete yang Terus Berusaha Berdampingan dengan Industri 4.0


Seiring dengan acara pada hari itu, alhamdulillah kami berkesempatan untuk mencicipi Ayam Geprek Mak BeTe yang merupakan salah satu usaha yang sedang dirintis oleh salah satu dari kami, yakni Tarie.

Pasti setiap produk yang dibuat memiliki keunggulan masing-masing. Kalau bahasa kekiniannya mah "The Power of Produk". Dan yang menjadi kekuatan dari Ayam Geprek Mak BeTe ini adalah rasa sambalnya yang ciri khas sangat menggugah lidah plus tanpa micin atau MSG. Jadi mengandalkan garam, gula dan rempah-rempah lainnya. Diolah menggunakan bahan pilihan dan tepung bumbu racikan sendiri tanpa MSG. Cocok banget sama lidah saya yang sedari kecil dibiasakan untuk meminimalisir konsumsi micin. Hehe

Beruntungnya saya, pada kesempatan kemarin mencoba Ayam Geprek Sambal Matah. Maklum orangnya suka pedas. Hehe. 
industri 4.0, tantangan 4.0, era revolusi industri 4.0
Ayam Geprek Mak BeTe Sambal Matah [Foto : Dok. Pribadi]
Untuk rasa dari Ayam Geprek Sambal Matah rasanya sangat menggigit lidah munggugah selera makan, walaupun menurut saya yang suka pedas, rasa pedasnya kurang berasa. Tapi sungguhan ini mah bikin nagih cuy! Ga percaya? Cuss langsung order saja ke instagram @ayamgeprekmakbete atau hubungi WA 08161453403 untuk pemesanan online. Lokasi dari Ayam Geprek Mak Bete ini berada di Bekasi. Jadi, untuk kita-kita yang di Tangerang, gak usah khawatir. Karena next akan tersedia versi frozennya.



Ayam Geprek Mak BeTe ini tersedia 3 jenis sambal yang sesuai dengan selera lidah kalian. Yakni ada sambal matah, sambal bawang, dan sambal pedas manis cocok buat kamu yang tidak suka pedas. Untuk harga? Tenang, cukup 15.000 saja kamu sudah bisa menikmati menu ayam geprek mak bete ini dengan nasi, ayam + sambal, dan timun. Gimana, terjangkau kan?!

4 Responses to "Inilah Cara Menghadapi Tantangan 4.0"

  1. Setuju nih sama mba Diyah mengenai sabar, nggak semua orang bisa bersabar tapi nggak ada salahnya kan kita mau belajar untuk bersabar.

    Apalagi kalau ada menu ayam geprek sambal matah didepan mata, kita harus sabar nunggu waktu berbuka dulu bari bisa menikmatinya 😁

    ReplyDelete
  2. Tak ada kata telat jika mau berusaha dan memanfaatkan kemajuan teknologi ya kak.. Justru dijadikan sebuah peluang untuk bisa sukses terus ya...

    ReplyDelete
  3. tau gak sih baca postingan ini serius banget aku baca nyimak tentang perkembangan industri teknologi dan kena frank diujung. aku kejebak di ayam geprek..
    tolong cabainya disingkirkan donk. mana Thanos...tolong bantu saya wkwkwk

    ReplyDelete
  4. era industri 4.0 ini kita harus menguasai sosmed dan strategi brandingnyaa, kalau udah menguasai naaah gampang deh nyari duit disitu hihi

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel