Merajut Konektivitas Ibu Kota Negara

Beberapa bulan lalu, Indonesia diramaikan dengan berita seputar Ibu Kota Negara (IKN) Baru. Yakni dari DKI Jakarta akan berpindah ke Kalimantan. Tentunya menuai berbagai tanggapan dari masyarakat. Saya pun termasuk salah satu yang kepo dengan Ibu Kota Negara baru nantinya.


Keramaian soal Ibu Kota Negara baru dimulai semenjak Bapak Presiden Republik Indonesia secara resmi telah mengumumkan rencana pemindahan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur, yaitu di sebagian wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara.

Kenapa Harus Pindah Ibu Kota?


Pasti banyak yang menanyakan perihal perpindahan Ibu Kota Negara ini. Mari kita berbicara soal data terlebih dahulu. Menurut BPS 2017, di Jakarta ada 15.663 jiwa/km2. Lalu berdasarkan riset Greenpeace & IQ AirVisual 2018, Jakarta menjadi Kota ke-1 terpolusi di Asia Tenggara. 5 cm - 6 cm air laut naik/tahun dan 1 cm - 25 cm permukaan tanah turun/tahun. Terdapat 53 titik banjir serta Kota ke-12 termacet di dunia berdasarkan Inrix 2017 Traffic Sorecard. Jakarta memiliki segudang masalah, oleh sebab itu Presiden Jokowi berniat memindahkan Ibu Kota Negara ke Kalimantan Timur.

Sehingga tujuan dari perpindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan Timur, di antaranya adalah :
  • Mengurangi beban Jakarta dan Jabotabek 
  • Mendorong pemerataan pembangunan ke wilayah Indonesia bagian Timur 
  • Mengubah mindset pembangunan dari Jawa Centris menjadi Indonesia Centris 
  • Memiliki Ibu Kota Negara yang merepresentasikan identitas bangsa, kebhinekaan dan penghayatan terhadap pancasila. 
  • Meningkatkan pengelolaan pemerintahan pusat yang efisien dan efektif. 
  • Memiliki Ibu Kota yang menerapkan konsep smart, green, and beautiful city untuk meningkatkan kemampuan daya saing (competitiveness) secara regional maupun internasional.

Dialog Indonesia : Merajut Konektivitas Ibu Kota Negara


Menyelisik dari keterangan di atas tentang pindahnya Ibu Kota, pasti kita bertanya-tanya ya, bagaimana sih Ibu Kota Negara baru nantinya akan dibangun? Apakah akan seperti Ibu Kota saat ini atau tidak?

Pada Rabu 26 Februari 2020 kemarin, pertanyaan soal Ibu Kota Negara baru yang terngiang di kepala ini terjawab. Bertempat di The Sultan Hotel & Residence acara "Dialog Indonesia : Merajut Konektivitas Ibu Kota Negara" digelar. Saya bersama Transmate Millenial Perhubungan berkesempatan untuk menghadiri acara yang sangat berfaedah ini.

Yang membuat diri semakin antusias datang ke acara ini adalah karena hadirnya Bapak Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi dan Pemimpin Harian Kompas, Ninuk Mardiana Pambudy. Dan juga berbagai lembaga dalam dan luar negeri serta berbagai institusi yang bekerja sama dalam membangun Ibu Kota Negara. Fix akan mendapat informasi terkini, langsung dari sumbernya!


Peranan Kementerian Perhubungan Sebagai Lembaga Pembantu Presiden


Dalam pembangunan sebuah kota pastinya tak lepas dari konektivitas. Konektivitas adalah kunci! Kementerian Perhubungan sebagai lembaga pembantu Presiden yang menyelenggarakan urusan di bidang transportasi menyusun gagasan sistem transportasi Ibu Kota Negara. Gagasan dimaksud terbagi menjadi 2 (dua) konsep besar, yaitu konektivitas utama menuju Ibu Kota Negara dan konektivitas wilayah perkotaan; sehingga mengusung tema besar yaitu Smart City, Smart Mobility yang berbasis eco friendly transportation system. Kebayang dong, Ibu Kota Negara nantinya akan seperti di negara-negara maju.

Yang menariknya dari Pembangunan Ibu Kota Negara baru nantinya adalah akan menjadi kota yang sehat, efisien, produktif, dan berprinsip "less mobility, move freely and less travel time". Konsep pengembangan transportasi perkotaan Ibu Kota Negara yang digagas adalah smart, integrated, dan sustainable.
"Smart" yaitu dengan pemanfaatan teknologi sarana, infrastruktur dan teknologi informasi termutakhir sehingga pergerakan dapat menjadi lebih efisien dengan pelayanan yang lebih informatif dan mengutamakan keselamatan dan keamanan. Konsep "Integrated" tidak hanya dalam konteks keterpaduan moda dan infrastruktur, namun juga mencakup perencanaan yang terintegrasi serta integrasi operasional seperti penjadwalan, ticketing serta integrasi tarif. Sebagaimana diketahui bahwa Ibu Kota Negara akan dikembangkan sebagai "Kota Di Dalam Hutan", sehingga elemen "sustainable" menjadi penting untuk diimplementasikan untuk menjamin bahwa pembangunan transportasi mempertimbangkan kebutuhan generasi yang akan datang. Hal ini dapat diimplementasikan melalui kebijakan-kebijakan yang mendukung perwujudan green transport, equity, dan pendorong pertumbuhan ekonomi.
Readers, berikut merupakan beberapa indikator keberhasilan untuk urban transport :
  • Perkotaan merupakan compact city, dimana tata guna lahan dibentuk untuk meminimalkan perjalanan. 80% perjalanan dengan jarak 20 km dapat ditempuh maksimal 30 menit.
  • Angkutan umum dijadikan sebagai pilihan utama, sehingga tingkat pelayanan angkutan menjadi Lo hal yang utama untuk diperhatikan. Ditargetkan 75% masyarakat menggunakan angkutan umum pada jam sibuk. Angkutan umum yang dikembangkan berbasis listrik dan bahan bakar ramah lingkungan. 
  • Koridor radial masuk pusat pemerintahan dengan KRL, sedangkan circular line kombinasi ART, E-Bus dan LRT. 
  • Sistem transportasi harus dapat melayani dan aksesibel untuk semua kelompok masyarakat.
  • Infrastruktur yang dibangun harus mendorong orang berjalan kaki dan bersepeda, dengan fasilitas yang people friendly. Ditargetkan 80% pengguna angkutan umum akan berjalan kaki 10 menit menuju transportasi umum.
  • Dalam rangka menjamin keselamatan, ada pemisahan antara arus pejalan kaki dan unmotorized vehicle dengan kendaraan.
  • Simpul transportasi terintegrasi antar moda transportasi dan tata guna lahan.
  • Transportasi perkotaan diatur dengan Intelligent Transport System
Readers, sebagai pejalan kaki setia, saya sangat antusias dengan pembangunan Ibu Kota Negara baru nantinya. Karena transportasi IKN bakal memanjakan pejalan kaki. Dengan meniru konsep kota negara-negara maju, pedestrian dirancang leluasa dengan pepohonan yang teduh. Apalagi kabarnya IKN nanti tidak ada tiang listrik atau tiang telepon yang membuat jalanan sempit, karena semua dibangun di bawah tanah. Ciamik banget ya! Kalau seperti ini sih saya semakin semangat untuk jalan kaki~

Seperti Ibu Kota Jakarta saat ini, di Ibu Kota Negara baru nantinya juga akan hadir berbagai transportasi umum untuk menunjang aktivitas setiap harinya. Bisa dilihat seperti gambar di bawah ini


Angkutan umum yang ada di Ibu Kota Negara baru nantinya pun berbasis listrik dan bahan bakar ramah lingkungan untuk mendukung konsep eco green city.  Di wilayah IKN kendaraan yang menggunakan bahan bakar fossil akan dikurangi dan digantikan kendaraan ramah lingkungan salah satunya adalah kendaraan berbasis bahan bakar listrik sehingga akan banyak diperlukan stasiun pengisian listrik umum untuk kendaraan pribadi yang menggunakan teknologi pengisian daya cepat. Sedangkan untuk angkutan umum massal seperti ART akan menggunakan wirelles charging, LRT/MRT akan menggunakan Third Rail atau Catenary.


Di Ibu Kota Negara baru nantinya terdapat beberapa klaster, yakni Pemerintahan, Pendidikan research & development, kesehatan, hiburan, dan keuangan. Nah, untuk klaster pemerintahan akan dibangun oleh pemerintah.

Nah saat ini sedang dipersiapkan proses tender master plan untuk Ibu Kota Negara. Dan kabarnya target pindah ke Ibu Kota Negara baru pada awal 2024 nanti. Sekarang saya mau nanya.. Bagaimana tanggapan readers soal Ibu Kota Negara baru ini?  
Merajut Konektivitas Ibu Kota Negara
Nyobain naik (doang) sepeda saat acara "Merajut Konektivitas Ibu Kota Negara"

1 Response to "Merajut Konektivitas Ibu Kota Negara"

  1. Sebenarnya penasaran juga sih gimana nanti Ibukota Barunya, harapannya sih semoga bisa jadi lebih baik dan lebih maju, aamiin.

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel