-->

Berhenti Kuliah

Berhenti Kuliah

Kuliah, salah satu jalan untuk mencapai jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Siapa sih yang tidak ingin berkuliah? Semua pasti ingin, namun karena beberapa hal yang membuat diri menjadi mundur untuk dapat melanjutkan bangku perkuliahan.

Saya termasuk pribadi yang sangat peduli akan pendidikan. Dari SMK saya sudah mempunyai keinginan untuk berkuliah, berangan-angan ingin kuliah di STAN yang memang sesuai dengan jurusan saat SMK yaitu Akuntansi. Tapi saya berpikir kembali saat itu, rasanya mendingan saya bekerja terlebih dahulu dan lebih baik bekerja untuk berkuliah atau istilahnya kerja sambil kuliah.

Setelah beberapa kali pindah tempat kerja, dan menurut saya tabungan sudah cukup untuk mendaftar kuliah. Akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar kuliah pada salah satu Sekolah Tinggi swasta yang beralamatkan di Cimone Tangerang. Langsung mendaftarkan diri tanpa mencari referensi terlebih dahulu? Tidak! Tentu, sebelumnya saya sudah mencari-cari tahu referensi untuk tempat perkuliahan, dan saya merasa cocok dengan jurusan yang ada di Sekolah Tinggi tersebut terutama mengenai biaya pendidikannya. Oh ya, termasuk mengenai angkutan umum, cukup sekali naik angkutan umum kalau dari rumah saya menuju kampus dengan rute Kutabumi-Cimone.   

Sebelumnya saya sudah pernah bercerita mengenai bangku perkuliahan saya di sini. Semester demi semesternya saya jalani, mencoba tetap bertahan untuk dapat berkuliah sampai lulus. Pada akhirnya saya temui titik dimana saya benar-benar merasa lebih baik saya mundur untuk saat ini. Menyerah? Entahlah ini termasuk menyerah atau mengalah pada keadaan, saat di mana saya harus melepaskan apa yang sejak dulu saya inginkan untuk dicapai. Rencana-rencana yang menjadi tidak sesuai dengan aktual, mimpi yang nyaris tidak ingin untuk dimimpikan, keyakinan yang mungkin akan lenyap saat itu. Teeet #Lebay.

Awalnya saya berniat untuk mengambil cuti terlebih dahulu, tidak memutuskan untuk langsung berhenti berkuliah. Rencana saya mengambil cuti kuliah selama satu tahun, saat itu saya ingin fokus untuk bekerja dan menabung untuk biaya perkuliahan selanjutnya. Banyak dari mereka yang menyarankan untuk tidak mengambil cuti, salah satunya teman saya yang berkata "Kak jangan cuti, nanti jadi malas kuliahnya." atau "Jangan cuti, nanti malah lupa kuliah." dan saran-saran lainnya. Namun keras kepala saya tetap memutuskan untuk mengambil cuti, karena yakin saya tidak mungkin berhenti kuliah begitu saja ditambah kondisi saat itu yang berkata lebih baik saya mengambil cuti perkuliahan. Hingga saat itu pun dimulai, saat saya memutuskan cuti kuliah dan fokus bekerja. Tidak ada lagi tugas-tugas kuliah, tidak ada lagi saat saya mengejar-ngejar jam kuliah, ataupun kegalauan memilih untuk bekerja atau berkuliah. Saya berpikir bahwa kondisi seperti ini hanya satu tahun, selama satu tahun juga saya mesti menabung untuk biaya kuliah.

Namun, apa yang saya dapatkan setelah satu tahun itu? Usaha dan do'a saya masih kurang, sehingga saya memutuskan untuk berhenti berkuliah. Saya menganggur, tidak bekerja dan berkuliah. Saya berpikir mungkin Tuhan berkata lain. Entahlah, saat itu saya sangat galau kalau keinget kuliah ataupun melihat kampus. Dari luar terlihat dapat menerima semuanya, tapi saya belum bisa ikhlas untuk saat itu. Banyak dari mereka yang berkata "Sayang banget uang yang selama ini dikeluarkan untuk kuliah.", "Sayang banget waktu yang terbuang begitu saja kalau tidak lanjut kuliah.", dan entahlah saya lupa komentar apa lagi yang saya dapatkan.

Saya terlalu lemah, tidak mampu melanjutkan jalan untuk menggapai cita-cita. Mungkin seperti itulah tanggapan saya dan mereka saat itu. Tapi, lambat laun saya mulai dapat menerima kenyataan. Saat dimana saya mendengar kata kuliah atau ada yang menanyakan perihal perkuliahan, dengan tenang saya menjawab bahwa saya sudah berhenti kuliah. Lagi-lagi akan menerima jawaban "Sayang banget..". Iya, memang sayang. Tapi, entah kenapa saya sudah biasa saja dengan keputusan saya. "Sayang banget uang yang sudah dihabiskan untuk kuliah.."

Dengan cara seperti ini saya menjadi semakin mengerti apa itu "Ikhlas". Saat saya tidak lagi menghabiskan energi saya untuk menggalaukan berapa nominal rupiah yang sudah saya keluarkan untuk perkuliahan, berapa semester yang telah saya lewati, berapa kesempatan yang saya buang. Saya tetap bersyukur dapat merasakan bangku perkuliahan, mendapatkan ilmu selama tiga semester, mendapatkan teman ataupun kenalan. Saya menganggap uang yang telah saya keluarkan telah sebanding dengan apa yang telah saya dapatkan. Lah tapi kan ga wisuda mar? Wisuda memang tujuan akhir dari kuliah, untuk apa kuliah kalau tidak wisuda dan tidak mendapatkan gelar di belakang nama? Ya memang benar! Tapi, setiap dari kita mempunyai pandangan yang berbeda. Tidak apa-apa belum bisa wisuda yang menjadi tolak ukur banyak orang bahkan menjadi tolak ukur juga dalam hal pekerjaan.

Apa yang telah Tuhan berikan untuk saat ini pasti yang terbaik untuk kita semua. Bersyukur kunci utama untuk bisa ikhlas. Bersyukur diberikan waktu yang luang untuk mengembangkan diri, bersyukur dapat memahami diri sendiri hingga tidak ada waktu untuk mengeluh. Bersyukur dengan segala karunia Tuhan yang telah diberikan untuk kita, masih diberi nikmat sehat, masih diberi waktu luang, masih diberi orang-orang yang sayang sama kita yang selalu mengingatkan kita, dan masih banyak lagi tentunya. Hingga tidak ada waktu untuk mengeluhkan masa lalu.

Sampai-sampai sesuatu yang mungkin menyakitkan untuk kita menjadi senyuman untuk kita. Bisa begitu? Bisa! Saya ada sedikit cerita saat menghadiri job fair sepekan lalu yang di adakan oleh pihak Kabupaten Tangerang. Jadi begini ceritanya, saat sedang mengelilingi stan-stan perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan, saya berhenti pada salah satu stan untuk membaca keterangan mengenai lowongan pekerjaan tersebut, baru membaca satu kata, penjaga stan langsung memberitahu ke saya bahwa itu untuk lowongan lulusan D3 dan S1. Dengan senyuman manis saya *yailah manis cuy :D* saya pun menjawab "Oh, iya pak :)" dan kembali jalan untuk menghampiri stan yang lainnya. Mungkin kalau saya belum bersyukur, saya akan sakit hati dengan ucapan tersebut. Dan mungkin saya akan bergumam dalam hati "Seandainya, gue masih lanjut kuliah." disertai dengan memasang muka masam seasam belimbing sayur yang masih kecil. Beruntungnya saya, dalam keadaan yang sedang sumpek (karena sangat ramai) masih bisa bersyukur dengan lulusan SMK. Karena saya merasa, saya masih punya Tuhan.

Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk saya, tapi mungkin cara saya memandang yang belum benar sehingga rasa bersyukur menjadi terhalang oleh pandangan yang salah.

Untuk teman-teman yang sedang berjuang dengan skripsinya, selamat dan semangat yaa.. beberapa langkah lagi untuk wisuda :)

0 Response to "Berhenti Kuliah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel