Semoga Kita Bahagia dengan Pilihan Kita #Cerpen

Naskah ini hanyalah fiktif belaka, jika ditemukan banyak kesamaan itu hanyalah kebetulan semata.

Cerpen
Foto ig @rodhimardhiyah

Aku pernah terjebak dalam sebuah rasa yang berdasarkan atas nama cinta. Di saat hati ini sedang menanti kehadiran sosok seseorang yang memang dinantikan kehadirannya, dia datang dengan permisi dan sopan santun yang sungguh wanita mana yang tidak terkagum-kagum dibuatnya. Saat itu keimananku sangatlah terguncang dengan segala kelebihan yang dimilikinya terutama dengan omongannya yang begitu manis.

Berawal dari facebook yang merupakan media sosial yang sering aku buka pada saat itu. Entah awalnya bagaimana sampai aku dapat berteman di facebook dengan lelaki yang aku sebut dengan nama Bang Riyan. Aku memanggilnya Bang karena usianya yang lebih tua 4 tahun di atasku. Awalnya Bang Riyan hadir hampir di setiap status yang aku buat entah itu berupa like ataupun komentar. Dan tentunya komentar yang diberikannya pun selalu berupa semangat maupun nasehat.

Pada saat itu yang aku tahu bahwa Bang Riyan merupakan seorang mahasiswa di salah satu kampus di Yogyakarta yang berasal dari Aceh yang sedang mengurus skripsinya. Sedangkan aku hanyalah seorang wanita lulusan SMK yang sedang bekerja di salah satu Perusahaan di Tangerang (Alias buruh pabrik).

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, tahun berganti tahun. Semakin lama aku semakin kagum dibuatnya, dengan sosoknya yang begitu dewasa serta penyabar yang terlihat dari caranya membalas komentar serta chat di facebookku, dan ditambah lagi fotonya yang ganteng menjadi nilai plusnya.

Setelah sekian tahun saling sapa-menyapa di facebook, akhirnya aku dan Bang Riyan bertukar nomer handphone dan juga pin BBM. Semakin dekat saja hubungan di antara kita, tak hanya itu, aku juga dikenalkan dengan teman dekatnya yang bernama Bang Reja yang merupakan tetangganya sewaktu di Aceh sekaligus teman kecilnya sampai teman kuliahnya.

Percakapan basa-basi merupakan hal yang sering terjadi setiap hari antara aku dan Bang Riyan, namun tak jarang juga Bang Riyan memberikan semangat serta nasehat untukku yang masih sangat labil. Sampai pada suatu hari aku membaca sebuah status di facebooknya yang ditulis seperti ini : “MR=RM” Lantas aku langsung menanyakan apa maksud dari statusnya itu. Sungguh jawaban yang sangat mengejutkan, Bang Riyan berkata bahwa itu status merupakan inisial jodoh. Ia menjelaskan bahwa MR itu singkatan dari namanya sedangkan RM merupakan singkatan dari namaku.

Berawal dari status itu Bang Riyan langsung memberitahuku bahwa dia menyukaiku, tentu aku tak percaya karena kita hanya saling kenal melalui dunia maya belum pernah bertemu langsung karena jarak yang begitu jauh. Aku di Tangerang sedangkan Bang Riyan di Yogyakarta yang membuat aku berpikir bahwa mustahil kita bisa bertemu langsung.

Namun Bang Riyan mencoba meyakinkanku bahwa dirinya memang menyukaiku. Dengan mengirimkan foto skripsinya yang mana ada namaku pada bagian ucapan terimakasih dan di dalam skripsinya itu ada kata-kata yang kurang lebih menyatakan bahwa hanya aku yang ada di hatinya. Saat itu aku sangat shock dibuatnya, aku bingung harus bagaimana, di sisi lain aku kecewa karena dia telah lancang memakai namaku di skripsinya. Setelah itu Bang Riyan pun segera meminta maaf, karena merasa sudah lancang menyukai diriku, dan akupun akhirnya dapat memaafkannya.

Setelah itu aku dan Bang Riyan kembali berkomunikasi seperti biasanya, hingga tiba saatnya Bang Riyan wisuda dan dia mengundangku untuk hadir pada wisudanya. Namun aku tidak bisa hadir, tentunya karena jarak yang sangat jauh dan aku tetap harus menjaga diriku walaupun aku dan Bang Riyan sudah kenal dekat di dunia maya tetap saja aku harus waspada. Karena tak jarang ditemukan berita mengenai kejahatan yang berawal dari facebook.

Hari demi hari aku lalui seperti biasanya dan tetap menjaga komunikasi antara aku dan Bang Riyan. Entah kenapa semakin hari perasaanku kepada Bang Riyan ada yang berbeda, seperti ada yang lain di hati ini, bisa dibilang aku telah menyukai Bang Riyan. Sampai pada suatu waktu aku menanyakan suatu hal kepada Bang Riyan “Bang Riyan maaf, apakah Bang Riyan masih suka dengan adik?” dan ternyata dia menjawab “Iyaa adik, abang masih suka sama adik”.

Lantas aku pun bilang yang sebenarnya tentang perasaanku ini. Namun kita tidak ada kata pacaran hanya sebatas teman tetapi saling mengetahui bahwa masing-masing di antara kita memang menyimpan rasa.

Setelah Bang Riyan lulus dari perkuliahan ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta dengan tujuan melamar kerja di daerah Jakarta atau Tangerang. Yang membuat aku bahagia karena tujuannya bekerja di Jakarta ataupun di Tangerang agar bisa dekat denganku. Dan juga setelah Bang Riyan pindah ke Jakarta ia berniat untuk ke Tangerang dengan tujuan menemuiku.

Setelah beberapa minggu di Jakarta, Bang Riyan mengajakku untuk bertemu “Adik, hari minggu nanti bolehkah abang bertemu dengan adik?” Aku senang karena Bang Riyan ingin menemuiku namun aku bingung ingin mengajak siapa untuk bertemu dengannya, karena pastinya aku akan canggung saat pertama kali bertemu dengan Bang Riyan. Dan aku memutuskan untuk mengajak sepupuku yang bernama Farhan dan juga temanku sewaktu SMK yang bernama Vina saat bertemu dengan Bang Riyan nanti.

Akhirnya hari itu pun tiba, kita memutuskan Metroplis sebuah mall yang berada di Cikokol Tangerang, sebagai tempat pertemuan kita. Dan aku juga bilang kepadanya bahwa aku tidak terbiasa berduaan dengan teman lelaki oleh karena itu aku mengajak sepupuku dan juga temanku, dan ternyata temanku juga mengajak sepupunya yang masih terbilang anak-anak pada waktu itu. Untungnya Bang Riyan memaklumi perihal tersebut. 

Sesampainya di Metropolis aku dan Farhan terlebih dahulu mencari Vina beserta sepupunya. Setelah aku bertemu dengan temanku beserta sepupunya tersebut aku memberitahu kepada Bang Riyan di mana posisiku agar Bang Riyan menemuiku. Setelah beberapa saat kita menunggu akhirnya Bang Riyan datang dengan senyum hangatnya. Sungguh aku semakin kagum dibuatnya, karena pada saat bersalaman denganku dan juga Vina, dia tidak berani mengulurkan tangannya, satu point saat pertemuan tersebut yang menjadi nilai plus lagi.

Akhirnya setelah bercakap-cakap sebentar dan saling berkenalan antara Bang Riyan dengan Farhan, dan juga Vina serta sepupunya, kita memutuskan untuk mencari tempat makan dan kita memutuskan untuk makan di lantai 3. Yang mana tempat tersebut memang banyak pilihan menunya. Aku dan Bang Riyan yang memesan menu makanan, dan sebenernya tak enak juga karena malah jadi Bang Riyan yang bayarin semuanya. 

Yang sampai sekarang aku ingat adalah Bang Riyan engga suka minuman bersoda dan dia memesan air putih untuk minumannya waktu itu. Setelah makanan siap, kitapun makan dan diselingi dengan percakapan-percakapan perkenalan antara Bang Riyan dengan Vina dan juga sepupunya beserta sepupuku. Pada saat itu aku banyak diamnya mungkin karena baru pertama kali bertemu dengan Bang Riyan dan juga grogi. Yaa aku memang seperti ini kalau dengan lawan jenis yang aku kagumi hanya grogi dan gugup yang dirasa kalau bertemu langsung, tidak seperti wanita pada umumnya yang dapat mencairkan suasana.

Setelah kita selesai makan dan bercakap-cakap, kita memutuskan untuk langsung pulang karena kasihan dengan sepupu-sepupu yang kita ajak karena mereka masih terbilang anak-anak. Sungguh hari itu merupakan hari yang sangat mengesankan menurutku, dimana aku bisa bertemu dengan seorang lelaki yang benar-benar aku suka yang awalnya hanya sebatas kagum. “Fix ini bukan hanya sekedar rasa biasa tetapi ada harapan di dalamnya.”

Setelah pertemuan itu, antara aku dan Bang Riyan semakin dekat kita berbicara semakin lebih kepada tujuan kita berdua. Saling menyemangati dan memberikan motivasi setiap harinya terutama perhatian Bang Riyan terhadapku yang begitu sangat membuatku semakin terharu dan semakin menyukainya.

Hingga pada suatu hari teman kerjaku yang bernama Laila mengenalkanku dengan seorang lelaki yang bernama Nana. Nana merupakan seorang mahasiswa yang sambil bekerja pada salah satu perusahaan yang berada di Jakarta. Dia sosok lelaki yang baik, dewasa, serta pintar. Akupun senang ketika berkomunikasi dengannya banyak pengetahuan baru yang aku dapatkan dari Nana dan kitapun tidak lupa untuk saling mengingatkan kepada kebaikan. Aku menyebutnya sebagai sahabat meskipun perkenalanku dengan Nana baru saja berjalan tetapi entah kenapa aku sangat cocok berkomunikasi dengannya. Apalagi Nana sering memberikan masukan-masukan yang membangun untuk masa depanku.

Pada 2 Mei 2014, di mana usiaku genap 21Tahun sungguh tidak disangka aku mendapatkan surprise dari mereka yang aku sayang dan juga yang menyayangiku. Sepulangnya dari bekerja aku bersama kedua temanku, Laila dan Yani memang mempunyai rencana untuk melipir dulu ke City Mall. Yang mana mall tersebut tidak begitu jauh dari tempat kerjaku. Sesampainya di City Mall aku mendapat kado dari Laila. Kado itu merupakan pemberian dari Nana. “Oren nih kado dari Nana, tapi jangan bilang ke Bang Riyan yaa klo lu dapet kado dari Nana.” Ucap Laila. Begitu aku menerima kado terebut Laila langsung menyuruhku untuk membukanya.

Sebenarnya aku ingin membukanya di rumah saja karena tidak enak, namun aku juga penasaran sih. Akhirnya setelah aku buka kado tersebut, ternyata isinya berupa sebuah buku kerajinan tangan yang isinya kata-kata berupa do’a serta motivasi dan juga ada sebuah kartu memory yang mana berisikan sebuah video yang disertai dengan tulisan-tulisan berupa do’a. Sebuah kejutan yang memang belum pernah aku dapatkan sebelumnya, dan aku mendapatkannya dari Nana yang sudah aku anggap seperti sahabat.

Setelah sholat dan nyanyi-nyanyi di tempat karoke sederhana yang berada di City Mall. Kita memutuskan untuk makan di salah satu tempat makan yang berada di sana. Sungguh sangat tak disangka saat kita sedang asik makan, dari arah belakang ada yang mengucapkan “Happy Birthday” dengan jantung yang berdebar aku nengok ke arah belakang dan ternyata Bang Riyan yang mengucapkan itu sambil membawa kue tart. Rasanya aku pengen nangis bahagia saat itu, "Yaa Allah ternyata antara teman-temanku dan Bang Riyan sedang merancang sebuah kejutan untukku." Ucapku dalam hati. Tidak hanya kue tart namun Bang Riyan juga memberikan bantal besar berwarna oranye (warna kesukaanku) dan juga 2 buah coklat yang merupakan makanan favoritku. Sungguh pertemuan kami saat itu merupakan pertemuan yang sangat hangat di mana teman-temanku dan juga lelaki yang aku sayang saling bersenda gurau.

Hari-hari berikutnya aku semakin dibuat senang dengan Bang Riyan. Hingga pada suatu hari, Bang Riyan sempat bertemu denganku sebelum aku masuk kerja hanya untuk memberikan sebuah kado, padahal hari itu aku tidak sedang berulang tahun. Kado itu berisikan kaset DVD Lyla yang mana memang aku ingkinkan saat itu dan juga coklat yang selalu menghiasi pemberian dari Bang Riyan.

Setelah sekian lama kedekatanku dengan Bang Riyan, aku dibuat sadar oleh sahabatku yang bernama Nana. Bahwa apa yang sedang aku jalankan dengan Bang Riyan merupakan dosa, dimana seorang wanita dan lelaki menjalin hubungan yang begitu dekat dengan saling berkiriman pesan mesra. Walaupun kita tidak pernah saling menyentuh dan tidak ada kata pacaran tetapi tetap saja komunikasi yang kita jalin merupakan zina hati. Astaghfirullah perlahan aku dibuat sadar oleh sahabatku yang bernama Nana tersebut, dia tak berhenti mengirimkan nasehat-nasehatnya kepadaku.

Lambat laun aku sadar sekali bahwa apa yang aku jalani ini memang merupakan zina dan perbuatan dosa. Aku memutuskan untuk menjauh dari Bang Riyan. Setiap pesannya yang dikirimkan aku abaikan, namun Bang Riyan tetap saja mengirim pesan-pesan untukku. “Adik kenapa? Maafin abang yaa klo abang punya salah sama adik, abang sayang adik.” Isi salah satu pesan yang aku abaikan darinya.

“Assalamu'alaikum adik.. Adik apa kabar? Gimana hari-harinya adik? Abang minta maaf kalo abang banyak salah sama adik..  BBM : ........ “ Dan ini merupakan pesan terakhirnya yang dikirimkan untukku.

Hingga setelah beberapa bulan aku mengabaikannya akhirnya kita berdua memang dinyatakan putus komunikasi. Sedih sekali rasanya namun sudah menjadi pilihanku untuk berhijrah. Akan tetapi aku tetap mengharapkan kehadirannya di masa depanku, aku berpikir bahwa kalau ia memang menyayangiku maka ia kelak akan melamarku. Sungguh harapan yang sangat besar namun yaa begitulah adanya aku pada saat itu.

Setelah sekitar 2 tahun kita tidak menjalin komunikasi sama sekali, aku mendengar kabar dari Bang Reja yang merupakan teman dekatnya, bahwa Bang Riyan telah menikah. “Dek, sudah dapat kabar kah kalau Bang Riyan hari ini menikah?” Ucap Bang Reja dan juga mengirimkan foto pernikahan Bang Riyan. Sungguh saat mendengar kabar tersebut aku sangat shock, rasanya badan ini sangat lemas dan di kepala ini ada berbagai macam pertanyaan yang muncul. “Wah Alhamdulillah Bang klo begitu, adek ikut senang mendengar kabar itu semoga menjadi keluarga yang SaMaWa yaa mereka Bang.. Aamiin..” Ucapku kepada Bang Reja setelah mendapat kabar tersebut. Sedih sudah pasti namun saat itu yang aku ucapkan kepada Bang Reja tidaklah seperti apa yang sedang aku rasakan, aku pura-pura bahagia mendengar kabar itu seolah tidak ada rasa sedih sedikitpun. Bukan munafik namun memang aku harus bersikap seperti itu, harus bisa mencoba untuk menerima kenyataan yang memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan.

Saat itulah perasaanku sedang diuji oleh Tuhan, ternyata selama ini aku belum mengikhlaskan Bang Riyan. Aku belum hijrah sepenuhnya dan dengan menaruh harapan kepada Bang Riyan membuat peluang munculnya rasa sedih pada diriku. Sungguh tak sepantasnya aku menaruh harapan selain kepada Tuhan pemilik hati setiap umat-Nya.

Ternyata selama ini Bang Riyan berpikir bahwa aku sudah tidak mengharapkannya lagi, dan aku memang sudah meninggalkannya lantas dia menjadi berpaling ke lain hati dan memilih untuk hidup bersama wanita lain yang memang sudah dia pilih. "Terkadang Tuhan menghadirkan orang di dalam kehidupan hanya untuk singgah tidak untuk hidup bersama di masa depan."

Setelah mendapat kabar tersebut aku berusaha untuk dapat hidup normal kembali seperti sebelum aku mengenal Bang Riyan. Bukankah sebelum aku mengenalnya hidupku baik-baik saja? Bang Riyan akan selalu tersimpan rapih dengan kenangan-kenangan yang diberikannya di masa laluku dan tidak akan ada yang bisa merubahnya bahkan menggantikannya. Masa laluku memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk kehidupanku saat ini, dimana aku harus lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan juga keluarga yang memang akan selalu setia bagaimanapun keadaanku.

Hidup haruslah tetap berjalan meskipun keadaan terpuruk sekalipun pernah aku lalui, bagaimana caranya agar aku mampu bangkit dari keterpurukan itu dan tetap istiqomah dalam berhijrah. Selama aku masih hidup di dunia ini Tuhan masih memberikan kesempatan kepadaku untuk memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Setelah apa yang aku alami ini, aku menjadi sadar bahwa larangan Tuhan itu dibuat memang untuk kebaikan hamba-Nya. Sungguh tidak ada kenikmatan yang lebih ketika aku berusaha semakin mencoba mempelajari apa yang memang sudah menjadi ketentuan-Nya serta mencoba lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Kini aku mencoba untuk menjadi seorang muslimah yang lebih baik lagi dengan berusaha menjaga hati ini sampai nanti waktunya akan tiba dimana aku memang dipertemukan dengan jodohku entah di dunia ini ataukah di dunia yang akan datang. Aku hanya fokus bagaimana caranya meningkatkan kualitas diriku dan bertanggung jawab atas apa yang memang masih menjadi tanggung jawabku saat ini.

Tetap menjaga rekening harga diri dengan cara tidak mudah kecewa ataupun galau hanya karena urusan cinta dengan lawan jenis. Karena menurutku kecewa itu muncul karena aku sendiri yang memberikan peluang untuknya. Bukankah aku hanya pantas berharap kepada Tuhan dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia?

Dan semoga apa yang menjadi pilihan kita memang menjadi pilihan yang dapat kita terima di waktu yang akan datang, dan semoga kita bahagia dengan apa yang menjadi pilihan kita masing-masing. Bang Riyan bahagia dengan pilihan hatinya, dan aku bahagia dengan pilihanku untuk berhijrah. InsyaAllah..

Tips Move On/ Motivasi

Menyimpan rasa kepada lawan jenis yang belum halal dan menyelami rasa tersebut merupakan zina hati dan malah dapat menyakitkan hati kita sendiri. Karena kalau ternyata yang kita sukai bukan jodoh kita, maka hanya akan menghabiskan waktu dan memberikan peluang galau di hati kita.

Tuhan memberikan larangan kepada umat-Nya dalam hal berzina sekalipun itu zina hati, tentu saja untuk kebaikan hamba-Nya. Alangkah baiknya jika kita tetap dalam jalur yang semestinya, yaitu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Yakin deh selama kita berada di jalurnya maka hidup kita akan selalu damai. Apalagi kalau kita semakin mencoba mendekatkan diri Kepada Tuhan, karena sejatinya hanya Tuhan yang akan selalu setia mendengarkan keluh kesah kita tanpa bosan. Dan tentunya Tuhan akan memberikan jalan keluar yang terbaik untuk setiap masalah yang kita hadapi.

Otomatis kalau kita sudah dekat dengan Tuhan insyaallah iman kita akan selalu terjaga dari perasaan-perasaan yang tidak semestinya. jadilah jomblo yang berkualitas selalu mencoba meperbaiki kualitas diri, jadikan setiap keterpurukan sebagai pelajaran yang berharga untuk memperbaiki diri. Berusaha bangkit dari keterpurukan itu dan selalu menjaga rekening harga diri dengan tidak memberikan peluang munculnya rasa kecewa atau galau di hati kita.
Sibukkan diri dengan segala aktifitas yang bermanfaat dan pilihlah lingkungan pergaulan yang positif yang bisa mengajak kita kepada kebaikan dan tak segan mengingatkan kita kalau kita melakukan kesalahan.

Semangat menjomblo sampai halal dan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk teman-teman semua, sampai tiba saatnya nanti kita dipertemukan dengan jodoh kita masing-masing. Aamiin..

0 Response to "Semoga Kita Bahagia dengan Pilihan Kita #Cerpen"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel